Rabu, 20 Juli 2011

Pemilu Langsung Adalah Demokrasi Atau Euforia Belaka!


Selama ini demokrasi selalu menjadi kambing hitam untuk sebuah kegiatan yang belum tepat. bagaimana di sebuah negara yang sedang mengalami masa transisi sudah berani menerapkan sistem pemilu secara langsung. yang kita semua tahu untuk melaksanakan sistem pemilu langsung ini di butuhkan persiapan dan kematangan dalam berdemokrasi, bagaimana mungkin di sebuah negara transisi telah berani  melangkah jauh kedepan melampaui dari kemampuan dan kesiapan yang dimilikinya.



Nah sekarang bisa kita ukur dengan parameter sejauh mana kesiapan kita untuk sebuah pemilu langsung, mulai dari segi konstitusi saja sudah di langgarnya. terlebih kesiapan para elit politik kita yang kadang-kadang bahkan lebih sering kurang dewasa ketika melihat lawa politiknya menang. mungkin kita juga harus fair untuk melihat terlebih dahulu apakah kemenagan yang di peroleh lawan politiknya itu melalui jalan/ cara  yang bersih atau kotor. tidak saja sampai disitu, bahwa untuk sebuah pemilu langsung itu juga di tuntut agar masyrakat sudah memiliki pendidikan politik yang baik sehingga paling tidak dapat meminimalis terdapatnya Swing Voters. karena bagaimanapun Swing Voters adalh penentu dari kemenangan seorang calon presiden di negara manapun hal ini berlaku mutlak karena jumlah mereka kebanyakan bersal dari daerah yang masih minim pendidikan politiknya.


Selain kita berbicara tentang bagaiman kesiapan SDM, pendidikan politik UU juga yang tak mungkin kita nafikan adalah biaya dari sebuah pesta demokrasi ini sangatlah mahal, memang ada ungkapan yang menyatakan bahwa demokrasi tiu mahal. tapi kemahalan biaya untuk sebuah demokrasi yang baik memang tidak akan menimbulkan persoalan, namun kemudian akan menimbulkan persoalan ketika dari ongkos demokrasi yang mahal justru akan menghasilkan demokrasi yang semu tentu hal ini akan melukai hati rakyat. karena jelas dalam hal ini rakyatlah yang menjadi korbannya sebab hakiki dari demokrasi itu adalh dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. bagaiman mungkin hal ini bisa terjadi ketika kita berada dalam demokrasi yang semu.


Dan kini bangsa ini telah melaksanakan pemilu langsung ini sebanyak dua kali yaitu pada tahun 2004 dan pada tahun 2009 lalu. tentu pemerintah menyadari apa kelebihan dan kekurangan pemili langsung ini. dan bila mungkin lebih banyak di temukan dampak  negatifnya saya berkeyakinan pemerintah pun enggan untuk mengganti/merubah sistem pemilu di negeri ini, karena apa selama ini indonesia cukup di pandang di dunia intersnasional karena dinilai mampu menerapkan demokrasi dengan baik dan jika hal ini di ubah tentu akan mengubah pandangan dunia internaional terhadap demokrasi di indonesia. karena kita tahu pemerintah sangat mengidolakan pencitraan.


Terlebih dengan adanya Pemalsuan surat Keputusan MK (Mahkamah Konstitusi) yang di duga dilakukan oleh andi Nurpati kemudian sedkit membuka mata kita bahwa pesta demokrasi kemarin-kemarin tidaklah seperti yang kita harapkan.
jadi pemilu langsung sebuah demokrasi atau euforia semata...??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar